Maaf ”sahabat jiwaku”
Beberapa minggu terakhir ragaku seolah olah
beku tanpa rasa, sunyi sepi entahlah ada apa dengan raga ini..
disepertiga malam biasanya aku tak kenal
lelah untuk bertemu dengan rabb’ku. bercerita, mengadu dalam keheninganku. Aku
berada di tempat yang begitu nyaman ya..itu
sajadahku, tampat itu dimana hatiku menjadi damai seperti tersiram embun di pagi
hari, butiran tasbih yang ada dalam genggamanku sebagai saksi ketika aku
berinteraksi denganNya, gelapnya malam tak pernah membuatku takut karena aku tak
pernah sendiri. Athifah dia tak pernah bosan menemaniku semenjak aku mash dalam
rahim ibuku hingga saat ini, dia yang selalu mengenalkanku dan mendekatkanku
denganNYA. Aku memang belum bisa berkomunikasi dengannya karena masih ada
pembatas antara kita, tapi aku bisa berinteraksi dengan tatapannya, dia sahabat
jiwaku senyumannya membuat aku yakin jika ia masih nyaman untuk tetap tinggal
dalam jiwaaku. Yaaa.. tapi beberapa waktu ini dia berbeda, dia diam hanya
gambaran kematian yang ada dalam bayanganku..
aku takut, semakin takut ...
aku sendiri, yaa.. ragaku memang tidak
sendiri tapi hatiku??
Adapa denganku, aku bertanya tanya..
“kenapa aku? ”
Rutinitasku dalam witir tidak pernah aku
lewatkan karena aku menjadikan kematian adalah temanku yang kapanpun bisa
berkujung datang, tapi rutinitasku di sepertiga malam itu terhenti dalam
beberapa waktu belakangan ini, setiap aku bangun aku marah, kecewa karena alrm
yang ada di handphone ku juga tidak bisa membuatku bangun.
“ada apa ini? Aku kenapa?” aku marah
tapi bingung harus marah dengan siapa
terlebih lebih dalam bulan ini sudah 2 kali aku lalai sholat fardu, tuhan
betapa aku seperti manusia yang tidak berguna.
Aku bangun dari tempat tidurku pada waktu itu
aku bergegas untuk melakukan rutinitasku dalam ibadah, duha dan sunah" lainnya sudah menjadi kebiasaanku bahkan sudah menjadi wajib untukku. Aahhhhh tapi
tetap itu belum bisa mengobati hati yang beku ini.
Aku diam, merenung tentang perbuatanku..
Athifah seolah menjauh, tak pernah aku lihat
senyumnya lagi..
“tuhan kemana dia?” Aku bertanya tanya dalam
hatiku,
“kemana sahabat jiwaku?”
“apa dia marah?”
Wajahnya masih tampak murung, mungkin dia
kecewa dengan perilaku aku akhir akhir
ini..
“apa yang harus aku lakukan, agar dia bersahabat
lagi dengan jiwaku?” aku selalu bertanya tanya dalam hatiku..
“tolong jangan tinggalkan aku!, aka sangat
membutuhkanmu athifah untuk lebih mengenalNYAa bukankah kamu sudah berjanji
akan mengenalkanku dengan dengan sosok bidadari berwajah manusia siti
fatimah az zahra” ucapku dengan lirih
“dia masih diam, tapi perlahan mulai
mengangkat pandangannya”
Aku belum bisa berbicara dengannya tapi aku
tau rupanya dia memberiku kesempatan untuk kembali menjadi sahabat jiwanya yg
nyaman.
“jangan pergi dariku wahai sahabat jiwaku,
karena aku tak mampu melihatmu terseret seret di akhirat karena perbuatanku
didunia”
Dia tersenyum, dan sekarng dia kembali dan seperti
biasa dia selalu mengingatkanku, membangunkanku di setiiap waktu ibadahku ,
khususnya di sepertiga malamku
Terimakasih Allah, ngkau telah menempatkan
sahabat jiwaku yang selalu bersahabat denganku, dengan tujuan yang sama ingin
bertemu denganMU, nabi’ku dalam keaadaan yang baik. Aamiin